| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

18 Mei 2008

Panglima TNI, Pola Hidup Solidaritas Sudah Memudar

(Bandung) - Di tengah tantangan globalisasi, kondisi ketahanan, pertahanan dan keamanan nasional ditinjau dari aspek astagatra menunjukkan kerawanan. Diantara kerawanan itu, adalah menurunnya nasionalisme dan wawasan kebangsaan sebagai bangsa Indonesia.

”Hal tersebut ditandai dengan mulai memudarnya pola-pola hidup solidaritas, gotong royong, musyawarah untuk mufakat yang selama ini menjadi kekuatan pembangunan bangsa,” Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menyatakan saat menjadi pembicara seminar nasional memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional tahun 2008 di kampus ITB Bandung, Sabtu (17/5).

Panglima TNI dalam paparannya menyebutkan dari faktor Sumber Daya Manusia (SDM), kita masih menghadapi permasalahan rendahnya kualitas tersebut. Rendahnya militansi sebagai warga bangsa dan lunturnya jati diri sebagai bangsa Indonesia. Untuk itu, semua harus sadar, bangkit dan bekerja keras untuk bersama-sama merevitalisasi/ mereaktualisasi nasionalisme dan wawasan kebangsaan.

”Membangun kualitas SDM dan memperkokoh militansi bangsa. Memegang teguh jati diri dan kultur bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah hal mutlak yang harus dilakukan,” jelasnya.

Untuk itu, ia memperingatkan, bahwa NKRI sebagai sebuah negara merdeka, berdaulat dan dibangun dengan pengorbanan tetesan-tetesan darah, keringat dan air mata, termasuk gugurnya para pahlawan untuk merenungkan sedalam-dalamnya peringatan Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam pesannya.

”Kemerdekaan yang telah dimiliki dan dipertahankan, jangan sekali-kali dilepaskan dan diserahkan kepada siapapun yang akan menjajah dan menindas kita. Waspada, jangan lengah, kelengahan mengakibatkan kelemahan, kelemahan mengakibatkan kekalahan dan kekalahan menimbulkan penderitaan, ” tegasnya

Panglima TNI menambahkan, kokohnya ketahanan dan pertahanan nasional ditentukan oleh keberhasilan pembangunan nasional yang diawaki oleh sumber daya manusia yang berkualitas dengan tetap memegang teguh kultur dan jati diri bangsa Indonesia. ”Oleh karena itu, pembangunan nasional yang berhasil akan berkontribusi terhadap pembangunan kekuatan pertahanan negara,” tandasnya. (Subhan/ Pemerintahan)

Tidak ada komentar: