(Jakarta) – Pihak Rektor Universitas Nasional (Unas) disinyalir sengaja menutup-nutupi kematian mahasiswa Unas Maftuh Fauzi.
“Rektor menutup-nutupi kasus kematian Maftuh karena pada saat kematian Maftuh, mahasiswa yang stand by di kampus tidak diberitahu oleh rektorat,” ujar Juru Bicara mahasiswa Unas Syahrul Kodar saat konperensi pers kasus kematian Maftuh di Unas, Sabtu, (21/6).
Syahrul yang merupakan salah satu dari 30 tersangka tahanan Polres Jakarta Selatan (Jaksel) tersebut menyatakan, pihak rektorat juga diduga telah mengintervensi keluarga Maftuh untuk menutupi sebab-sebab meninggalnya Maftuh.
“Pada saat meninggalnya Maftuh, pihak keluarga langsung membawa jenazah pulang ke Kebumen, ini disinyalir ada indikasi intervensi pada pihak keluarga,” terang Syahrul.
Maftuh merupakan salah satu mahasiswa yang juga sempat ditahan oleh Polres Jaksel setelah ricuh mahasiswa dan polisi akibat demo BBM di Unas. Dirinya tewas setelah dirawat beberapa hari di RSPP, dokter yang merawat mengatakan MAftuh tewas akibat menderita penyakit Aids. (Willy/Dhita)
“Rektor menutup-nutupi kasus kematian Maftuh karena pada saat kematian Maftuh, mahasiswa yang stand by di kampus tidak diberitahu oleh rektorat,” ujar Juru Bicara mahasiswa Unas Syahrul Kodar saat konperensi pers kasus kematian Maftuh di Unas, Sabtu, (21/6).
Syahrul yang merupakan salah satu dari 30 tersangka tahanan Polres Jakarta Selatan (Jaksel) tersebut menyatakan, pihak rektorat juga diduga telah mengintervensi keluarga Maftuh untuk menutupi sebab-sebab meninggalnya Maftuh.
“Pada saat meninggalnya Maftuh, pihak keluarga langsung membawa jenazah pulang ke Kebumen, ini disinyalir ada indikasi intervensi pada pihak keluarga,” terang Syahrul.
Maftuh merupakan salah satu mahasiswa yang juga sempat ditahan oleh Polres Jaksel setelah ricuh mahasiswa dan polisi akibat demo BBM di Unas. Dirinya tewas setelah dirawat beberapa hari di RSPP, dokter yang merawat mengatakan MAftuh tewas akibat menderita penyakit Aids. (Willy/Dhita)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar