(Jakarta)-Asian Development Bank (ADB) memperkirakan trend penurunan harga minyak dunia beberapa hari terakhir bersifat sementara dan negara-negara berkembang di kawasan Asia masih akan menghadapi harga minyak yang tinggi dan bergejolak secara berkepanjangan. Harga minyak diperkirakan akan berada diatas $100 per barel paling tidak hingga tahun 2020.
Demikian prediksi ADB yang termaktub dalam Perkiraan Perkembangan Ekonomi Asia 2008 (Asian Development Outlook 2008) yang diterima IndonesiaOntime, Selasa (16/9).
”Harga minyak akan tetap tinggi, dan semakin cepat negara-negara berkembang di Asia menyadari kenyataan ini semakin baik,” kata Kepala Ekonom ADB Ifzal Ali dalam siaran pers ADB.
Menurut ADB berkepanjangannnya harga minyak dunia yang tinggi dipastikan akan memperlambat pertumbuhan dan memaksa pemerintah-pemerintah di kawasan untuk melakukan penyesuaian yang sulit di bidang kebijakan untuk mendorong efisiensi energi di kalangan konsumen.
”Pertumbuhan ekonomi yang kuat pada saat harga minyak tinggi dalam beberapa tahun belakangan ini, seharusnya tidak memperdayakan kita sehingga kita percaya bahwa prospek pertumbuhan ekonomi di Asia tidak akan terpengaruh oleh mahalnya harga minyak. Melihat ke depan, harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan hampir bisa dipastikan akan berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Asia di waktu yang akan datang.” papar Ifzal.
Laporan ADB menyebutkan, tingginya harga minyak saat ini, sebagian besar disebabkan oleh melonjaknya permintaan dan ketidakmampuan para pemasok untuk menyesuaikan pasokan dengan lonjakan yang terjadi.
Ifzal Ali mengatakan perkiraan mengenai harga minyak dalam jangka panjang yang ada dalam laporan ADB ini harus menjadi peringatan bagi para pembuat kebijakan di negara-negara berkembang di Asia.
”Konsumsi minyak di negara-negara berkembang di Asia tiga kali lebih tinggi dari produksi minyaknya sehingga temuan dari laporan ini tidak bisa diabaikan. Jika gagal bertindak sekarang maka kerugian yang timbul akan lebih besar nantinya, ”ujar Ifzal.
Menurut Ifzall, untuk mengantisipasi dampak yang buruk, pemerintahan negara berkembang Asia perlu mengambil tindakan untuk melakukan penyesuaian dalam kebijakan makro ekonomi dan juga kebijakan energi.
”Lebih penting lagi, para pembuat kebijakan harus menggunakan pendekatan hukuman dan hadiah (carrot and stick approach) dalam hal subsidi dan pajak untuk mendorong perusahaan-perusahaan dan konsumen menggunakan minyak secara lebih efisien.”pungkasnya. (adi)
16 September 2008
ADB Prediksi Harga Minyak Diatas US$100 Hingga 2020
Posting Time
2:35:00 PM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar