(Washington) – Pejabat counter-terrorism senior AS, Selasa (16/9), mengatakan Al-Qaeda telah tertatih-tatih dan taktik kekerasannya telah membelokkan kaum Muslim di penjuru dunia menentang organisasi tersebut.
“Tentu saja tertatih-tatih. Al-Qaeda susah payah karena itu bukanlan pesan yang beresonansi dengan sebagian besar kaum Muslim,” kata Dell Dailey, koordinator counter-terrorism Departemen Negara.
Selain itu, yang juga dikhawatirkan yakni organisasi seperti Hizbullah Libanon dan Hamas, yang menggabungkan pelayanan sosial, penguasaan setempat, politik nasional dengan serangan ekstremis, kata Menteri Muda Negara James Glassman.
“Mereka adalah contoh yang memiliki lebih banyak daya tarik popular daripada Al-Qaeda, yang hampir tidak memiliki daya tarik popular,” kata Glassman.
Menurutnya, korban tewas akibat bom mobil dan bom bunuh diri Al-Qaeda lebih banyak jatuh pada kaum Muslim daripada barat, khususnya di Irak, dimana sebagian besar suku lokal berbalik melawan Al-Qaeda di Irak selama dua tahun terakhir.
Kekerasan ekstremis mengklaim lebih dari 9,500 korban warga sipil di negara Muslim tahun 2007.
Sementara itu, badan intelijen AS menentang ramalan kematian Al-Qaeda yang dikatakannya terlalu dini, mengingat organisasi memiliki pelabuhan yang aman di Pakistan dan upaya gigih dari cabangnya untuk melancarkan serangan di Afrika Utara dan wilayah lainnya.
Di lain pihak beberapa pemimpin religius garis keras yang sempat memanfaatkan pengaruh penting Al-Qaeda mulai mengecam kekerasan yang dilakukannya terhadap warga sipil, menurut Ted Gistaro, pejabat intelijen nasional untuk ancaman transnasional, dalam pidato di bulan Agustus.
Disamping keretakan yang nampak nyata, Al-Qaeda terus bertindak sebagai ancaman paling berbahaya bagi AS, berdasarkan laporan pejabat intelijen AS.
Penilaian intelijen nasional yang dirilis tahun lalu menyatakan Al-Qaeda telah memperbaharui kembali kepemimpinan dan kemampuannya untuk melancarkan serangan di wilayah suku barat Pakistan yang tidak terkendalikan.
Al-Qaeda terus menarik pejuang baru memerangi pasukan AS di Afghanistan, dan situs internet radikal yang menyediakan justifikasi religius atas serangan dan retoris kekerasan anti-Barat tetap menyebar.
Lebih lanjut, Glassman mengaku skeptis mengenai kliam Al-Qaeda mengubah cara-caranya, atau bahkan mampu mengubah caranya. “Saya ragu tentang hal ini. Mentalitas pemujaan kematian telah menjadi bagian dari DNA Al-Qaeda. Seorang Al-Qaeda yang mampu beradaptasi dapat menjadi Al-Qaeda yang jauh lebih berbahaya.” (AP/Lala/Internasional)
“Tentu saja tertatih-tatih. Al-Qaeda susah payah karena itu bukanlan pesan yang beresonansi dengan sebagian besar kaum Muslim,” kata Dell Dailey, koordinator counter-terrorism Departemen Negara.
Selain itu, yang juga dikhawatirkan yakni organisasi seperti Hizbullah Libanon dan Hamas, yang menggabungkan pelayanan sosial, penguasaan setempat, politik nasional dengan serangan ekstremis, kata Menteri Muda Negara James Glassman.
“Mereka adalah contoh yang memiliki lebih banyak daya tarik popular daripada Al-Qaeda, yang hampir tidak memiliki daya tarik popular,” kata Glassman.
Menurutnya, korban tewas akibat bom mobil dan bom bunuh diri Al-Qaeda lebih banyak jatuh pada kaum Muslim daripada barat, khususnya di Irak, dimana sebagian besar suku lokal berbalik melawan Al-Qaeda di Irak selama dua tahun terakhir.
Kekerasan ekstremis mengklaim lebih dari 9,500 korban warga sipil di negara Muslim tahun 2007.
Sementara itu, badan intelijen AS menentang ramalan kematian Al-Qaeda yang dikatakannya terlalu dini, mengingat organisasi memiliki pelabuhan yang aman di Pakistan dan upaya gigih dari cabangnya untuk melancarkan serangan di Afrika Utara dan wilayah lainnya.
Di lain pihak beberapa pemimpin religius garis keras yang sempat memanfaatkan pengaruh penting Al-Qaeda mulai mengecam kekerasan yang dilakukannya terhadap warga sipil, menurut Ted Gistaro, pejabat intelijen nasional untuk ancaman transnasional, dalam pidato di bulan Agustus.
Disamping keretakan yang nampak nyata, Al-Qaeda terus bertindak sebagai ancaman paling berbahaya bagi AS, berdasarkan laporan pejabat intelijen AS.
Penilaian intelijen nasional yang dirilis tahun lalu menyatakan Al-Qaeda telah memperbaharui kembali kepemimpinan dan kemampuannya untuk melancarkan serangan di wilayah suku barat Pakistan yang tidak terkendalikan.
Al-Qaeda terus menarik pejuang baru memerangi pasukan AS di Afghanistan, dan situs internet radikal yang menyediakan justifikasi religius atas serangan dan retoris kekerasan anti-Barat tetap menyebar.
Lebih lanjut, Glassman mengaku skeptis mengenai kliam Al-Qaeda mengubah cara-caranya, atau bahkan mampu mengubah caranya. “Saya ragu tentang hal ini. Mentalitas pemujaan kematian telah menjadi bagian dari DNA Al-Qaeda. Seorang Al-Qaeda yang mampu beradaptasi dapat menjadi Al-Qaeda yang jauh lebih berbahaya.” (AP/Lala/Internasional)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar