(Jakarta) – Sikap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang mendorong pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) 10-30 persen dinilai tidak bertanggungjawab.
“Sebetulnya kita sangat menyayangkan statement Kadin kepada pemerintah, seharusnya jika Kadin sudah percaya diri bahwa BBM boleh naik 10-30 persen, harusnya sudah ada konsensus di antara para pengusaha untuk siap menaikkan upah buruh sebesar itu,” kata Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky usai diskusi ‘Indeks Daya Beli Pekerja dan Indeks Persepsi Pekerja’ di Gedung YTKI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (30/4).
Menurut Yanuar, harus ada kebijakan dan kesepakatan konsensus nasional dari para pengusaha bukan dari perusahaan per perusahaan dan kemudian menarik titik persamaan dengan organisasi buruh.
“Titik persamaannya adalah mendorong pemerintah untuk konkrit menerapkan sistem jaminan sosial dan gerakan inter mediasi, sehingga tidak akan ada konflik di sana,” jelas Yanuar.
Yanuar menambahkan, untuk pengusaha sebetulnya masalah yang dihadapi adalah persoalan buruh. “Selama ini perspektif yang muncul selalu berbeda. Perspektifnya, selalu seolah-olah upah buruh murah,” tandasnya. (Subhan/Ekonomi-Sektor riil)
“Sebetulnya kita sangat menyayangkan statement Kadin kepada pemerintah, seharusnya jika Kadin sudah percaya diri bahwa BBM boleh naik 10-30 persen, harusnya sudah ada konsensus di antara para pengusaha untuk siap menaikkan upah buruh sebesar itu,” kata Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky usai diskusi ‘Indeks Daya Beli Pekerja dan Indeks Persepsi Pekerja’ di Gedung YTKI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (30/4).
Menurut Yanuar, harus ada kebijakan dan kesepakatan konsensus nasional dari para pengusaha bukan dari perusahaan per perusahaan dan kemudian menarik titik persamaan dengan organisasi buruh.
“Titik persamaannya adalah mendorong pemerintah untuk konkrit menerapkan sistem jaminan sosial dan gerakan inter mediasi, sehingga tidak akan ada konflik di sana,” jelas Yanuar.
Yanuar menambahkan, untuk pengusaha sebetulnya masalah yang dihadapi adalah persoalan buruh. “Selama ini perspektif yang muncul selalu berbeda. Perspektifnya, selalu seolah-olah upah buruh murah,” tandasnya. (Subhan/Ekonomi-Sektor riil)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar