(Jakarta) - Pemerintah rencana menerbitkan sukuk ritel pada tahun depan, pertimbanganya investor tertarik membeli instrumen berbasis syariah.
“Pada tahun depan, secara bertahap kita tidak bisa langsung menerbitkan berbagai instrumen sukuk dalam waktu yang bersamaan. Kita prioritaskan tahun ini adalah ijarah yang berbasis aset,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto di Jakarta, Rabu (30/4).
Dari sisi investor, jelasnya, institusi itu kelebihan dana seperti bank syariah (muamalat) dan asuransi takaful, tapi tidak ada instrumen yang menyerapnya. Potensinya akan sangat besar apalagi kalau prediksi pertumbuhan perbankan syariah 15 sampai 20 persen.
Selain itu, kata Rahmat, di pasar internasional investor Timur Tengah memiliki akses likuiditas seiring harga minyak yang melambung.
“Mereka harus tempatkan itu di instrumen berbasis syariah. Ini akan menambah potensi demand (permintaan-red) sukuk kita, makanya kita tidak hanya terbitkan di dalam negeri tapi juga luar negeri. Potensi-potensi ke depan sangat besar,” pungkas Rahmat. (Renny/Mimie/Keuangan)
“Pada tahun depan, secara bertahap kita tidak bisa langsung menerbitkan berbagai instrumen sukuk dalam waktu yang bersamaan. Kita prioritaskan tahun ini adalah ijarah yang berbasis aset,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto di Jakarta, Rabu (30/4).
Dari sisi investor, jelasnya, institusi itu kelebihan dana seperti bank syariah (muamalat) dan asuransi takaful, tapi tidak ada instrumen yang menyerapnya. Potensinya akan sangat besar apalagi kalau prediksi pertumbuhan perbankan syariah 15 sampai 20 persen.
Selain itu, kata Rahmat, di pasar internasional investor Timur Tengah memiliki akses likuiditas seiring harga minyak yang melambung.
“Mereka harus tempatkan itu di instrumen berbasis syariah. Ini akan menambah potensi demand (permintaan-red) sukuk kita, makanya kita tidak hanya terbitkan di dalam negeri tapi juga luar negeri. Potensi-potensi ke depan sangat besar,” pungkas Rahmat. (Renny/Mimie/Keuangan)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar