| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

22 April 2008

Pemimpin Dunia Ingatkan Dampak Biofuel terhadap Pangan

(New York) – Dua orang pemimpin Amerika Latin telah mengeluarkan peringatan mengenai dampak produksi biofuel dan persediaan pangan.

Berbicara pada forum PBB di New York mengenai dampak perubahan iklim global, Presiden Bolivia Evo Morales mengatakan perkembangan biofuel merugikan warganya. Kapitalisme, lanjut Morales, harus dihilangkan jika ingin bertahan dari dampak climate change.

“Perampasan sumber daya alam diakibatkan perkembangan industri yang tak terkendali. Beberapa Presiden Amerika Selatan yang membicarakan biofuel tidak memahami apa yang mereka bicarakan,” tuturnya.

Wartawan BBC mengatakan pernyataan ini menunjuk pada Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva yang mengatakan negaranya memiliki lahan yang cukup untuk menanam hasil pangan seperti halnya pabrik yang menghasilkan biofuel.

Minggu lalu, Luiz Inacio menolak dugaan biofuel bertanggung jawab pada kenaikan harga pangan global. Brazil kemudian, Senin, mengumumkan kerjasama menanam tebu untuk bio-ethanol dengan Ghana. Negara industri menginginkan penggunaan maksimal dari biofuel.

Terkait hal tersebut, Presiden Peru Alan Garcia menegaskan penggunaan lahan untuk biofuel semakin menjauhkan pangan dari rakyat miskin.

Sementara itu, Perdana menteri Inggris Gordon Brown mengetuai pertemuan mendiskusikan kebijakan Eropa yang memberi harapan biofuel. Menurutnya, Inggris harus lebih selektif dalam mendukung biofuel.

Peserta kampanye mengemukakan dengan menyediakan alternatif yang dapat diperbaharui untuk bahan bakar konvensional dapat menghentikan pemanasan global.

“Mengatasi kelaparan adalah tantangan moral bagi kita semua dan juga ancaman bagi stabilitas politik dan ekonomi negara.” kata Brown.

Namun dengan meningkatnya harga pangan global, ada kekhawatiran perkembangan biofuel dapat mengurangi produksi bahan makanan utama.

Negara Uni Eropa (EU) telah dikritik atas target mendapatkan 10 persen bahan bakar transportasi darat dari hasil panen. (BBC/Lala/Internasional)

Tidak ada komentar: