| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

20 Mei 2008

Hendardi Nilai Bang Ali Jenderal Pemberani


(Jakarta) – Di mata Hendardi, Ketua Setara Institute, Ali Sadikin adalah tokoh nasionalis yang konsisten, dan hitam putih dalam memandang banyak persoalan kenegaraan. Di mata bekas aktivis YLBHI yang kemudian mendirikan PBHI ini, Bang Ali sosok yang patut diteladani.

“Bang Ali adalah pribadi yang fair, dan rendah hati. Saya sangat kehilangan atas kepergian tokoh panutan ,” kata Hendardi, saat dihubungi Selasa (20/5) malam.

Hendardi dimintai komentarnya atas meninggalnya Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, dan pensiunan Letjen KKO TNI AL, Selasa malam, dalam perawatan di rumah sakit di Singapura. Rencananya jenazahnya akan tiba di Jakarta, Rabu (21/5) pagi .

Hendardi, pendiri sekaligus Ketua Badan Pengurus Setara Institute, berinteraksi pertama kali dengan Bang Ali sejak di LBH Bandung pada 1985. Hendardi waktu itu ikut membantu advokasi hukum terhadap mantan Pangdam Siliwangi Letjen HR Dharsono, yang juga anggota Petisi 50.

Di matanya, Bang Ali, aktivis Petisi 50, orang istimewa, berani berseberangan dengan kekuasaan, termasuk dengan Presiden Soeharto ketika itu. Ia berani mengeluarkan Petisi 50 di era 1980-an, dan sejak itu berseberangan dengan Soeharto yang sedang jaya-jayanya.

“Bang Ali salah satu mantan tentara yang patriotik, serta berani bertanggung jawab atas pilihan politiknya. Bang Ali berbeda dari banyak bekas tentara, dan jenderal yang bisanya lari dari tanggung jawab hukum, dan berlindung di balik institusi negara,” tegas Hendardi. (*/Naz).

Tidak ada komentar: