| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

03 Mei 2008

Masalah Perburuhan Selalu Jadi Tantangan Bagi Indonesia

(Jakarta) – Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J. Supit mengatakan perbedaan kepentingan antara buruh dan pengusaha akan selalu menjadi permasalahan serius bagi Indonesia.
“Filosofi pengusaha adalah profit tapi tentu ada tanggung jawab sosial, sedangkan buruh, jika ditanya pasti jawabnya we want more (kesejahteraan-red). Tapi yang pasti buruh dan pengusaha selalu saling terkait,” ujar Anton dalam sebush diskusi tentang perburuhan di Jakarta, Sabtu (3/5).

Menurut Anton, tuntutan perbaikan upah dan kesejahteraan yang diminta buruh merupakan hal yang wajar. Namun, katanya, kondisi perekonomian negara saat ini belum memungkinkan untuk memenuhi segala tuntutan buruh. “Persoalannya, yang salah adalah daya dukung ekonomi kita yang tidak bisa mengatasinya." ujar Anton.

Anton melihat sampai saat ini Indonesia belum memiliki UU yang membela kaum buruh terutama buruh sektor informal,”Padahal kondisi buruh di Indonesia menurut data ILO, sekitar 70 persen buruh ada di sektor informal dan dalam 30 persen yang berkerja di sektor formal juga ada yang termasuk buruh” kata Anton.

Saat ini dari 97,8 juta tenaga kerja Indonesia, 70 persennya berkerja dengan status informal dan 74 persen berpendidikan SMP atau kurang.

Solusi yang diambil pemerintah, lanjut Anton, adalah dengan mengadopsi sistem di Jepang yang mengalihkan buruh sektor informal ke sector formal , “Seperti Jepang yang 80% tenaga kerjanya bekerja disektor formal," pungkasnya. (Mimie/Adi/Pol-Pemerintahan).

Tidak ada komentar: