Sebelum merenungkan lebih jauh, mari kita merenungkan potensi besar yang dimiliki Tanah Air Indonesia ini. Kandungan kekayaan alam yang terbentang di sekitar 17.000 pulau, sungguh merupakan anugerah luar biasa bagi Bangsa Indonesia. Wilayah Darat dan Laut yang luas dengan kekayaan alamnya, merupakan modal bagi kehidupan di Negeri ini. Rasanya amat sulit kita menghitung—seberapa besar kekayaan alam yang kita miliki? Namun, menjadi ironis karena pada kenyataannya sebagian besar masyarakat kita yang berpenduduk 225 juta jiwa adalah ”orang-orang miskin”. Sebagian besar ”stake holder Bumi Pertiwi”, hidup susah di Negerinya sendiri. Kemiskinan tentu saja bukan menjadi pilihan. Siapa yang paling bertanggung jawab atas kemiskinan tersebut?
Mengelola Indonesia memang tidak mudah. Keragaman budaya, keragamanan geografis dan demografis, mempengaruhi cara pandang setiap jiwa di Indonesia. Belum lagi keterpengaruhan para kaum cerdik-cendikia dari pemikiran-pemikiran asing, membuat keragaman Indonesia semakin kompleks. Sebab itu, untuk memandu kompleksitas yang dimiliki tersebut, dibutuhkan kekuatan dan kecerdasan dari para petinggi Negeri, baik di pusat maupun di daerah. Pastilah, seluruh jiwa dan raga Bangsa Indonesia, menginginkan Negeri yang kaya raya ini, bisa memberikan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dengan nurani yang paling dalam, kita harus iri terhadap kemajuan yang telah dicapai banyak Negara di dunia ini.
Kita sesungguhnya tidak bisa lagi berlindung atas usia yang baru dicapai Republik Indonesia ini. Memasuki usia yang ke-63 pada 17 Agustus 2008 nanti, tentu bukan usia yang muda lagi sebagai Negara yang berdaulat. Sebab, dengan kandungan kekayaan alam yang dimiliki, sejatinya Indonesia bisa menjadi Negeri yang makmur, dihormati, dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Indonesia sungguh berbeda dengan negara-negara lain di dunia ini. Perjalanan sejarah telah mencatat, Indonesia adalah sebuah negara yang besar. Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang kuat.
Ketergantungan banga ini terhadap bangsa lain, kiranya menjadi titik nadir mengapa sampai saat ini kemakmuran dan keadilan sosial itu belum terwujud. Kita menjadi bangsa yang begitu bodoh untuk bisa mengelola potensi alam dan bangsa yang luar biasa ini. Tidak cuma itu, egoisme sebagian besar para elit masyarakat, yang hanya berpikir ”demi kekuasaan dan uang”, telah menjerumuskan kehidupan Bangsa Indonesia di tepi jurang kehancuran. Tengok saja, bagaimana kita bisa menyaksikan para elit politik bertikai? Bagaimana para intelektual berebut bicara, menjadi orang paling pintar dan benar? Lihat saja bagaimana para penegak hukum bekerja? Rasakan saja bagaimana para aktivis LSM berkampanye? Semua berbicara demi kepentingan rakyat. Marilah kita bersama-sama menatap cermin di hadapan kita, benarkah kita secara tulus memperjuangkan kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh penghuni Negeri ini? Marilah kita melakukan instrospeksi diri atas “kata dan perbuatan” yang telah kita jalani.
Pada saat ini, Bangsa Indonesia membutuhkan seorang Pemimpin, bukan sekedar seorang pejabat pemerintah. Apalagi, seorang pejabat yang hanya berpikir ”jangka pendek” untuk kemakmuran dan keadilan diri sendiri, keluarga, orang-orang dekat, Partai Politiknya, golongannya. Kita membutuhkan Pemimpin yang mampu menjadikan Indonesia makmur, adil, dan sentosa bagi seluruh rakyat. Pemimpin yang mampu memberikan inspirasi, mendorong kreativitas, inovatif, dan mampu mendorong kemandirian bangsa secara utuh, bukan menjadi bangsa yang lunglai dan lesu darah. Tunggu apalagi?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar