| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

22 Juli 2008

Kekecewaan ASEAN Atas Birma

(Singapura) - Menteri luar negeri ASEAN menyatakan kekecewaan mendalam atas pemerintah Birma karena tidak membebaskan pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi, dari tahanan rumah.

Dalam pertemuan tahunan di Singapura, mereka juga menyerukan agar pemerintah militer Birma melakukan perundingan yang berarti dengan kubu oposisi.

ASEAN biasanya menempuh kebijakan yang tidak mencampuri urusan dalam negeri anggotanya, namun kemarahan internasional atas rejim militer Birma tampaknya memaksa ASEAN untuk mengubah pendirian.

Sepuluh tahun sejak Birma menjadi anggota ASEAN, kebijakan keterlibatan konstruktif yang ditempuh ASEAN dengan pemerintah militer Birma telah berakhir.

Untuk pertama kalinya, ASEAN secara terbuka mengecam penahanan Aung San Suu Kyi, dan menyatakan kekecewaan yang mendalam serta meminta pemeritah militer Birma agar berdialog dengan oposisi.

Suu Kyi kelak akan bebas?

Wartawan BBC di Singapura, Jonathan Head, mengatakan para jendral yang memerintah Birma begitu terisolasi sehingga tidak jelas apakah mereka mendengar suara-suara dari luar lingkaran mereka.

Setelah ASEAN berhasil melakukan mediasi agar para pekerja bantuan internasional bisa masuk ke Birma --menyusul terjadinya bencana topan-- ASEAN berharap pernyataan di Singapura ini akan memiliki dampak.

Menteri Luar Negeri Singapura, George Yeo, mengatakan berdasarkan percakapan dengan Menteri Luar Negeri Birma, dia memberi jaminan masa penahanan pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi akan habis dalam waktu enam bulan.

Yeo mengatakan dia berharap pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi akan dibebaskan dari tahanan rumah setelah masa tersebut.

Aung San Suu Kyi telah menghabiskan lebih dari 12 tahun di dalam tahanan rumah sepanjang 18 tahun terakhir.

Mencegah konflik

Isu lain yang ditangani para menteri luar negeri ASEAN adalah eskalasi ketegangan antara 2 negara anggotanya, Thailand dan Kamboja.

Pasukan kedua negara sudah dikerahkan ke perbatasan sehubungan dengan sengketa atas kuil kuno, Preah Vihear. ASEAN meminta kedua belah pihak untuk amat berhati-hati dan menahan diri.

Selain itu juga ditempuh pembahasan atas traktar baru ASEAN, yang diperkirakan mendukung hak asasi manusia dan harus ditanda-tangani oleh semua anggota --termasuk Birma-- pada akhir tahun ini.

Namun wartawan kami, Jonathan Head, mengatakan ASEAN lebih banyak berupaya untuk mencegah konflik di antara 10 negara anggota, dan juga dengan negara-negara besar seperti Amerika, Cina, dan India.

Dan masalah wilayah yang lebih besar ikut membayang-bayangi pertemuan ASEAN di Singapura ini, antara lain perundingan enam negara tentang program nuklir Korea. (BBC/Nurseffi)

Tidak ada komentar: