(Jakarta) – Efektifitas money politic dinilai kecil pengaruhnya untuk menggalang suara pada pemilu 2009 mendatang. Hal ini disampaikan Ketua Tim Survei Nico Harjanto dalam paparan hasil survei Perilaku Pemilih Indonesia 2008 di kantor CSIS, Jakarta, hari ini (15/7).
“Hanya seperlima responden atau sekitar 21,4 persen yang menyatakan akan memberikan suaranya kepada parpol yang memberikan uang dan melakukan intimidasi,” ujar Nico.
Cara-cara yang dilakukan parpol, jelas Nico, bervariasi bentuknya. Misalnya satgas partai mendatangi masyarakat beberapa jam sebelum pemilihan atau membagi-bagikan sembako.
Jika parpol cerdas, tambah Nico, kebiasaan konvensional ini harus segera ditinggalkan oleh partai politik. “Karena masyarakat sekarang sudah dinilai cukup rasional dan cerdas mengamati gerak-gerik partai.”
Namun, Nico tidak dapat menjelaskan partai-partai mana saja yang kerap kali melakukan manuver-manuver politik negatif tersebut. “Kita tidak tahu partai mana saja, yang jelas tersebar,” ujarnya.
Fenomena money politik ini, tegasnya, kerap ditemui pada penyelenggaraan pilkada. Sedangkan untuk pemilu nasional jarang sekali terjadi. Sementara itu, menurut Nico, ada sebanyak 35 persen responden yang menyatakan dirinya baru akan menetapkan pilihan partai politik pada hari pemilu 2009.
“Pada tahun 2004 sebanyak 25 persen calon pemilih menentukan pilihannya di hari pemilu, sedangkan 35 persen calon pemilih berencana menetapkan pilihan pastinya di hari pemilu untuk tahun 2009,” urainya. (Mimie)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar