(Harare) – Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe dan pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai telah menandatangani kesepakatan yang menguraikan kerangka kerja untuk membicarakan krisis politik Zimbabwe.
Kesepakatan itu menyerukan pembahasan konstitusi baru, pembentukan pemerintah bersama dan mendesak dicegahnya kekerasan politik.
Kedua pemimpin yang direkam bersalaman dalam pertemuan di ibu kota Harare telibat pertikaian mengenai pemilihan presiden tahun ini. Ini merupakan pertemuan pertama dalam satu dasawarsa terakhir, dengan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki berperan sebagai penengah kesepakatan itu.
Tsvangirai mengatakan penandatanganan kesepakatan, peristiwa yang dilukiskan dia sebagai bersejarah, oleh dia dan Mugabe merupakan komitmen untuk langkah tentatif pertama menuju pencarian solusi bagi sebuah negeri yang mengalami krisis. "Kami ingin meyakinkan bahwa setiap warga Zimbabwe merasa aman, kami ingin kemakmuran bersama bagi setiap orang dan kami ingin Zimbabwe yang lebih baik," katanya.
Tsvangirai mengakui bahwa banyak pernyataan keras yang dilontarkan antara kedua pihak. Namun, ujarnya, mereka semua harus toleransi dan bekerja sama jika menginginkan kemajuan.
Sementara, Mugabe mengemukakan kedua pihak sepakat pada hari Minggu mengenai perlunya konstitusi negara itu diamandemen dalam sejumlah pasal. "Kami duduk disini dalam memasuki cara baru interaksi politik," ujarnya.
Dia juga memuji Mbeki untuk upaya mediasinya seraya menambahkan, "Kita harus melakukan hal ini sebagai orang Zimbabwe, sepenuhnya sebagai orang Zimbabwe dengan bantuan Afrika Selatan." tambah Mugabe.
Pemimpin MDC Tsvangirai mengumpulkan suara lebih banyak dalam pemilihan presiden babak pertama bulan Maret lalu, namun pejabat komisi pemilu mengatakan tidak ada pemenang yang jelas dan menyerukan pemilu babak kedua.
Mugabe memenangkan pemilu putaran kedua namun dia satu-satunya kandidat setelah Tsvangirai mundur, menuduh pemerintah mendukung kampanye kekerasan terhadap para pendukungnya. (BBC/Lala/Internasional)
Kesepakatan itu menyerukan pembahasan konstitusi baru, pembentukan pemerintah bersama dan mendesak dicegahnya kekerasan politik.
Kedua pemimpin yang direkam bersalaman dalam pertemuan di ibu kota Harare telibat pertikaian mengenai pemilihan presiden tahun ini. Ini merupakan pertemuan pertama dalam satu dasawarsa terakhir, dengan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki berperan sebagai penengah kesepakatan itu.
Tsvangirai mengatakan penandatanganan kesepakatan, peristiwa yang dilukiskan dia sebagai bersejarah, oleh dia dan Mugabe merupakan komitmen untuk langkah tentatif pertama menuju pencarian solusi bagi sebuah negeri yang mengalami krisis. "Kami ingin meyakinkan bahwa setiap warga Zimbabwe merasa aman, kami ingin kemakmuran bersama bagi setiap orang dan kami ingin Zimbabwe yang lebih baik," katanya.
Tsvangirai mengakui bahwa banyak pernyataan keras yang dilontarkan antara kedua pihak. Namun, ujarnya, mereka semua harus toleransi dan bekerja sama jika menginginkan kemajuan.
Sementara, Mugabe mengemukakan kedua pihak sepakat pada hari Minggu mengenai perlunya konstitusi negara itu diamandemen dalam sejumlah pasal. "Kami duduk disini dalam memasuki cara baru interaksi politik," ujarnya.
Dia juga memuji Mbeki untuk upaya mediasinya seraya menambahkan, "Kita harus melakukan hal ini sebagai orang Zimbabwe, sepenuhnya sebagai orang Zimbabwe dengan bantuan Afrika Selatan." tambah Mugabe.
Pemimpin MDC Tsvangirai mengumpulkan suara lebih banyak dalam pemilihan presiden babak pertama bulan Maret lalu, namun pejabat komisi pemilu mengatakan tidak ada pemenang yang jelas dan menyerukan pemilu babak kedua.
Mugabe memenangkan pemilu putaran kedua namun dia satu-satunya kandidat setelah Tsvangirai mundur, menuduh pemerintah mendukung kampanye kekerasan terhadap para pendukungnya. (BBC/Lala/Internasional)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar