(Jakarta) - Golongan putih (golput) di Indonesia adalah golput non ideologi. Golput terjadi karena persoalan teknis.
"Mereka menjadi golput karena tidak terdaftar atau kesibukan kerja," kata Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Yudi Latif di Jakarta, Jumat (1/8).
Sikap masyarakat yang cenderung lebih memilih ke tempat kerja daripada ke tempat pencoblosan, Yudi menilai hal tersebut menunjukan lemahnya kepercayaan masyarakat.
"Masyarakat menilai tidak ada untungnya ikut pemilu dan ini menunjukan munculnya apatis dalam masyarakat," ujar Yudi.
Menurut Yudi, apatisme masyarakat ini harus diputar supaya menjadi ideologis pembelajaran bagi parpol. "Saat ini golput dalam pilkada 40-50 persen sedikit lagi 60 persen, jika terus berlanjut berarti pemimpin nantinya hanya didukung 30-40 persen sehingga legitimasi pemerintah akan rendah," papar Yudi. (Nurseffi)
"Mereka menjadi golput karena tidak terdaftar atau kesibukan kerja," kata Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Yudi Latif di Jakarta, Jumat (1/8).
Sikap masyarakat yang cenderung lebih memilih ke tempat kerja daripada ke tempat pencoblosan, Yudi menilai hal tersebut menunjukan lemahnya kepercayaan masyarakat.
"Masyarakat menilai tidak ada untungnya ikut pemilu dan ini menunjukan munculnya apatis dalam masyarakat," ujar Yudi.
Menurut Yudi, apatisme masyarakat ini harus diputar supaya menjadi ideologis pembelajaran bagi parpol. "Saat ini golput dalam pilkada 40-50 persen sedikit lagi 60 persen, jika terus berlanjut berarti pemimpin nantinya hanya didukung 30-40 persen sehingga legitimasi pemerintah akan rendah," papar Yudi. (Nurseffi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar