(Islamabad) - Pemerintah Pakistan menyangkal bahwa badan intelijen negara itu, ISI, terlibat dalam pemboman mematikan atas kedutaan besar India di Kabul bulan lalu.
Hal ini dikatakan juru bicara pemerintah Sherry Rehman saat menjawab laporan media massa bahwa para simpatisan Taliban di dalam tubuh ISI membantu serangan mematikan itu. Dia juga mengatakan, tidak akan ada pembersihan di dalam ISI.
Hal ini berlawanan dengan pernyataan sebelumnya pada kantor berita AP saat mengatakan bahwa bertahun-tahun mendukung perjuangan jihad anti Soviet telah meninggalkan bekas. "Mungkin masih ada individu-individu di dalam tubuh ISI yang secara ideologi bersimpati kepada Taliban dan bertindak dengan cara mereka sendiri yang tidak sesuai dengan kebijakan dan kepentingan pemerintah Pakistan. Kita harus mencari tahu siapa orang-orang itu dan mengeluarkan mereka." demikian Rehman.
Namun, Rehman kemudian mengatakan bahwa dia dikutip di luar konteks oleh kantor berita itu. "Tidak ada pertanyaan mengenai apakah akan ada pembersihan di ISI" ujarnya.
"Pemerintah sudah menyatakan tidak ada kaitan atau bukti-bukti keterlibatan ISI dalam pemboman Kabul. Di masa lalu saat perjuangan jihad melawan Soviet ada sejumlah elemen pro-Taliban yang berhasil masuk, dan dengan perubahan kebijakan mereka berhasil dibasmi." tambahnya.
Lebih dari 50 orang tewas dalam ledakan di kedutaan di Kabul, termasuk dua diplomat senior India. Ini merupakan ledakan paling berdarah di ibukota Afganistan sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan di tahun 2001. (BBC/Lala/Internasional)
Hal ini dikatakan juru bicara pemerintah Sherry Rehman saat menjawab laporan media massa bahwa para simpatisan Taliban di dalam tubuh ISI membantu serangan mematikan itu. Dia juga mengatakan, tidak akan ada pembersihan di dalam ISI.
Hal ini berlawanan dengan pernyataan sebelumnya pada kantor berita AP saat mengatakan bahwa bertahun-tahun mendukung perjuangan jihad anti Soviet telah meninggalkan bekas. "Mungkin masih ada individu-individu di dalam tubuh ISI yang secara ideologi bersimpati kepada Taliban dan bertindak dengan cara mereka sendiri yang tidak sesuai dengan kebijakan dan kepentingan pemerintah Pakistan. Kita harus mencari tahu siapa orang-orang itu dan mengeluarkan mereka." demikian Rehman.
Namun, Rehman kemudian mengatakan bahwa dia dikutip di luar konteks oleh kantor berita itu. "Tidak ada pertanyaan mengenai apakah akan ada pembersihan di ISI" ujarnya.
"Pemerintah sudah menyatakan tidak ada kaitan atau bukti-bukti keterlibatan ISI dalam pemboman Kabul. Di masa lalu saat perjuangan jihad melawan Soviet ada sejumlah elemen pro-Taliban yang berhasil masuk, dan dengan perubahan kebijakan mereka berhasil dibasmi." tambahnya.
Lebih dari 50 orang tewas dalam ledakan di kedutaan di Kabul, termasuk dua diplomat senior India. Ini merupakan ledakan paling berdarah di ibukota Afganistan sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan di tahun 2001. (BBC/Lala/Internasional)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar