(Jakarta) – Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli menuding ada ‘campur tangan’ menteri terkait suspensi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Boleh jadi para menteri itu ingin melindungi saham yang mereka miliki agar tidak ikut runtuh seiring krisis global yang melanda dunia.
Demikian Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli menyampaikan pandangannnya dalam acara Deklarasi Keikutsertaan Rizal Ramli untuk Presiden, di Hotel Nikko, di Jakarta, Kamis (9/10).
“Jangan-jangan menteri punya kepentingan bisnis ingin melindungi sahamnya, sebabnya kepanikan ini terjadi lebih dari 400 kali lipat dibanding 2007 lalu,” tukas Rizal.
Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian era Gus Dur ini menilai, pemerintah kurang tanggap mengantisipasi gelembung-gelembung (bubble) financial di sektor bursa yang telah diprediksi oleh KBI sebelumnya.
“Laporan dan perkiraan ekonomi Indonesia 2008 akan ada bubble kalau tidak hati-hati akan melebar dampaknya. Tapi pemerintah membantah itu malah dibilang hanya cari popularitas,” tuturnya.
Bahkan Rizal menyebutkan nama Menteri Keuangan Sri Mulyani, mantan Menteri Perekonomian telah membantah prediksi yang dirilis KBI adalah tidak benar. (*/Mimie)
Demikian Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli menyampaikan pandangannnya dalam acara Deklarasi Keikutsertaan Rizal Ramli untuk Presiden, di Hotel Nikko, di Jakarta, Kamis (9/10).
“Jangan-jangan menteri punya kepentingan bisnis ingin melindungi sahamnya, sebabnya kepanikan ini terjadi lebih dari 400 kali lipat dibanding 2007 lalu,” tukas Rizal.
Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian era Gus Dur ini menilai, pemerintah kurang tanggap mengantisipasi gelembung-gelembung (bubble) financial di sektor bursa yang telah diprediksi oleh KBI sebelumnya.
“Laporan dan perkiraan ekonomi Indonesia 2008 akan ada bubble kalau tidak hati-hati akan melebar dampaknya. Tapi pemerintah membantah itu malah dibilang hanya cari popularitas,” tuturnya.
Bahkan Rizal menyebutkan nama Menteri Keuangan Sri Mulyani, mantan Menteri Perekonomian telah membantah prediksi yang dirilis KBI adalah tidak benar. (*/Mimie)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar