(Jakarta) - Prediksi pemerintah SBY bahwa krisis ekonomi Indonesia tidak akan seperti tahun 1998 dinilai salah. Susilo Bambang Yudhoyono dinilai tidak memiliki pengetahuan cukup soal sejarah krisis ekonomi di Indonesia.
"Saya mohon maaf, beliau kurang paham dengan sejarah krisis ekonomi Indonesia. Jangan bandingkan kondisi sekarang dengan tahun 1998 tapi pada posisi Oktober dan November 1997," jelas Ketua Komite Indonesia Bangkit Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di ruang fraksi PDIP gedung DPR, Jakarta, hari ini (10/10).
Menurut Rizal, saat itu pada akhir 1997 kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja Namun begitu pemerintah dan BI panik maka ekonomi Indonesia hancur.
"Menteri Keuangan Mari Muhammad dan Gubernur BI Sudrajad Djiwandono terlalu panik dan terlalu menurut pada IMF sehingga bank-bank kolaps dan tutup," jelas mantan Menteri Perekonomian era Gus Dur ini.
Hal ini, lanjut Rizal, ternyata dilanjutkan oleh pemerintahan SBY saat ini. "Dua bulan lalu IMF sarankan agar negera-negara di dunia untuk menaikan suku bunga, hanya Indonesia satu-satunya diseluruh dunia yang mengikuti saran IMF. Tokyo, AS, Australia, China, Eropa semuanya menurunkan suku bunga karena saat ini tengah terjadi kekeringan likuiditas," ungkapnya.
Rizal menjelaskan sebenarnya Econit sudah pernah mengingatkan pemerintah dalam papernya bahwa tahun 2008 merupakan the year of the bubble yang kalau tidak hati-hati maka balon itu akan meletus.
"Tapi kami ingat Boediono dan Sri Mulyani sangat sombong membantah bahwa kami itu mengada-ada. Rizal Ramli hanya mencari popularitas. Tapi yang terjadi adalah hampir semua ramalan kami terjadi sekarang," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Rizal menyayangkan sikap pemerintah yang tidak kredibel dan sigap dalam menangani krisis.
"Pemerintah umumkan bursa ditutup, kemudian kemarin diumumkan dibuka hari ini, baru dibuka sebentar ditutup lagi, betul-betul pemerintah yang tidak tidak kredibel dalam mengatasi krisis," paparnya. (Nurseffi)
"Saya mohon maaf, beliau kurang paham dengan sejarah krisis ekonomi Indonesia. Jangan bandingkan kondisi sekarang dengan tahun 1998 tapi pada posisi Oktober dan November 1997," jelas Ketua Komite Indonesia Bangkit Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di ruang fraksi PDIP gedung DPR, Jakarta, hari ini (10/10).
Menurut Rizal, saat itu pada akhir 1997 kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja Namun begitu pemerintah dan BI panik maka ekonomi Indonesia hancur.
"Menteri Keuangan Mari Muhammad dan Gubernur BI Sudrajad Djiwandono terlalu panik dan terlalu menurut pada IMF sehingga bank-bank kolaps dan tutup," jelas mantan Menteri Perekonomian era Gus Dur ini.
Hal ini, lanjut Rizal, ternyata dilanjutkan oleh pemerintahan SBY saat ini. "Dua bulan lalu IMF sarankan agar negera-negara di dunia untuk menaikan suku bunga, hanya Indonesia satu-satunya diseluruh dunia yang mengikuti saran IMF. Tokyo, AS, Australia, China, Eropa semuanya menurunkan suku bunga karena saat ini tengah terjadi kekeringan likuiditas," ungkapnya.
Rizal menjelaskan sebenarnya Econit sudah pernah mengingatkan pemerintah dalam papernya bahwa tahun 2008 merupakan the year of the bubble yang kalau tidak hati-hati maka balon itu akan meletus.
"Tapi kami ingat Boediono dan Sri Mulyani sangat sombong membantah bahwa kami itu mengada-ada. Rizal Ramli hanya mencari popularitas. Tapi yang terjadi adalah hampir semua ramalan kami terjadi sekarang," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Rizal menyayangkan sikap pemerintah yang tidak kredibel dan sigap dalam menangani krisis.
"Pemerintah umumkan bursa ditutup, kemudian kemarin diumumkan dibuka hari ini, baru dibuka sebentar ditutup lagi, betul-betul pemerintah yang tidak tidak kredibel dalam mengatasi krisis," paparnya. (Nurseffi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar