(Jakarta) - Kenaikan harga minyak tentunya akan mempengaruhi dua hal terhadap APBN, yaitu penerimaan dan pengeluaran. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada sambutannya di acara Investor Gathering, di Depkeu, Jakarta, Rabu (30/4).
Dari sisi penerimaan, kata Menkeu, pemerintah akan mengumpulkan melalui berbagai upaya untuk menekan agar efisiensi dan kebocoran di Pertamina dan desain dari berbagai penerimaan negara yang memang langsung berhubungan dengan penerimaan migas, apakah itu dari sisi lifting yang masuk dalam kas negara.
Sisi kedua, adalah pengeluaran. Kalkulasi pemerintah di APBN,ini sudah transparan, tidak dirahasiakan. Selama ini pemerintah selalu terus terang mengenai risiko fiskal dan defisit. Karena APBN bergerak berdasarkan situasi dan berbagai underlying assumption.
“Oleh karena itu kita akan pantau seluruh perkembangan subidi. Karena adanya pembengkakan subsidi, entah karena harganya naik, dari asumsi menjadi 120 dolar, tahu-tahu kursnya menjadi Rp 9.200, atau volumenya meningkat menjadi 37 juta, semuanya harus ada kejelasan mengenai resiko, sebagian resiko ini sudah kita antisipasi,” papar Menkeu.
Dalam APBNP, lanjutnya, telah dibuat bantalan (pengamanan) untuk memberikan pembekalan ketidakpastian. Namun, tetap ada upaya dari pemerintah untuk melakukan penghematan dan berbagai tindakan.
Selain itu, pemerintah terus berhati-hati memberikan pertimbangan pada situasi ekonomi yang alami goncangan begitu berat. Pemerintah akan melindungi masyarakat menengah dan bawah untuk tetap menjaga berbagai gejolak, ongkos, dan beban yang dihadapi.
Menkeu menghimbau, agar keseluruhan kepercayaan tetap terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi sedapat mungkin tidak terganggu. “Mungkin sudah merevisi (pertumbuhan ekonomi-red) dari 6,7 ke 6,3 dan kita mencoba supaya proyeksi tetap berada di atas 6 persen,” imbuh Menkeu. (Renny/Mimie Keuangan)
Dari sisi penerimaan, kata Menkeu, pemerintah akan mengumpulkan melalui berbagai upaya untuk menekan agar efisiensi dan kebocoran di Pertamina dan desain dari berbagai penerimaan negara yang memang langsung berhubungan dengan penerimaan migas, apakah itu dari sisi lifting yang masuk dalam kas negara.
Sisi kedua, adalah pengeluaran. Kalkulasi pemerintah di APBN,ini sudah transparan, tidak dirahasiakan. Selama ini pemerintah selalu terus terang mengenai risiko fiskal dan defisit. Karena APBN bergerak berdasarkan situasi dan berbagai underlying assumption.
“Oleh karena itu kita akan pantau seluruh perkembangan subidi. Karena adanya pembengkakan subsidi, entah karena harganya naik, dari asumsi menjadi 120 dolar, tahu-tahu kursnya menjadi Rp 9.200, atau volumenya meningkat menjadi 37 juta, semuanya harus ada kejelasan mengenai resiko, sebagian resiko ini sudah kita antisipasi,” papar Menkeu.
Dalam APBNP, lanjutnya, telah dibuat bantalan (pengamanan) untuk memberikan pembekalan ketidakpastian. Namun, tetap ada upaya dari pemerintah untuk melakukan penghematan dan berbagai tindakan.
Selain itu, pemerintah terus berhati-hati memberikan pertimbangan pada situasi ekonomi yang alami goncangan begitu berat. Pemerintah akan melindungi masyarakat menengah dan bawah untuk tetap menjaga berbagai gejolak, ongkos, dan beban yang dihadapi.
Menkeu menghimbau, agar keseluruhan kepercayaan tetap terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi sedapat mungkin tidak terganggu. “Mungkin sudah merevisi (pertumbuhan ekonomi-red) dari 6,7 ke 6,3 dan kita mencoba supaya proyeksi tetap berada di atas 6 persen,” imbuh Menkeu. (Renny/Mimie Keuangan)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar