HL KEN YA
(London) – Akibat kecemasan berlebihan atas ketegangan AS dengan Iran, harga minyak melambung mencapai rekor di atas US$ 129 per barel, Selasa waktu setempat atau Rabu (21/5) pagi WIB. Ketegangan itu memicu makin memanasnya spekulasi di pasar, yang mendorong kekhawatiran tentang ketatnya pasokan global dan menguatnya permintaan.
Eric Wittenauer, analis pada Wachovia Securities, mengungkapkan laporan tentang berkembangnya ketegangan antara Washington dan Teheran, menguatkan adanya kekhawatiran tentang konflik yang dapat berdampak terhadap negara kaya minyak itu. Dalam artikel di Jerusalem Post yang antara lain berisi Presiden AS George Walker Bush bermaksud menyerang Iran, sebelum ia lengser, menimbulkan reaksi keras dari pelaku pasar.
Akibatnya, kontrak berjangka minyak utama New York, jenis "light sweet" pengiriman Juni di perdagangkan di posisi tertinggi US$ 129,60. Tetapi, saat penutupan sedikit menurun pada US$ 129,02, atau naik US$ 2,02, dibanding penutupan Senin.
Untuk kontrak minyak mentah Brent, London, pengiriman Juli, juga meningkat US$ 2,78, dan ditutup pada US$ 127,84. Angka ini termasuk menurun dibanding posisi tertinggi selama ini, yang mencapai US$ 128,07. (*/Naz).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar