Sukses adalah buah dari kerja keras dan kepercayaan terhadap sesuatu jika ingin meraihnya. Pendapat ini bukan omong kosong, benar-benar nyata dan menjadi ukuran tersendiri buat seseorang, kelompok atau negara sekalipun. Kata sukses merupakan cakupan yang luar biasa dari apa yang sudah dilakukan dan diperbuat sehingga menimbulkan efek yang luar biasa pula. Kemashuran, kesenangan, kesejahteraan atau derajat yang tinggi ketika orang menilai dan melihatnya adalah buah dari kerja keras tersebut. Jadi, artikulasi pada kata sukses selalu membawa kebahagian bagi siapa saja. Pada level negara, sukses bisa diartikan kepada kemampuan para pemimpinnya mengukuhkan rasa aman dan kepercayaan terhadap masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari apa yang dihasilkan dan yang telah dicapai sehingga ada bukti konkrit sebagai wujud penilaian. Untuk negeri ini, dengan apa yang telah dilakukan para pemimpinnya masih sangat jauh dari harapan. Kata sukses itu sendiri perlu diterjemahkan lebih jauh. Bahkan penafsiran terhadap nilai tersebut justru memunculkan beragam pendapat, satu dengan yang lain saling merujuk pada versi yang berbeda. Tak terlihat kata sepakat, hingga akhirnya hanya membawa pada pemahaman yang dangkal dan ego pada semua aspek kehidupan. Bahkan atas nama kekuasaan yang dimiliki banyak hal terlupakan, meski sebenarnya hanyalah amanah yang diberikan. Toh, para pemimpin di negeri ini tak mau menyadarinya. Memaknai kata sukses, bukanlah pekerjaan yang super sulit. Semua masyarakat negeri ini juga tahu dan berharap kata itu dapat mewakili hidupnya. Dan sudah seharusnya negara sebagai tempat bernaung memastikan kenyataan tersebut. Tapi, apa yang terjadi dan kita saksikan bersama, semua masih sebatas wacana dan propaganda keberhasilan. Dengan kata lain sukses masih belum berpihak di negeri ini. Pada satu sisi ribut mempersoalkan ego, posisi dan harga diri dikalangan elit politik, justru membuat sebagian besar pemimpin negeri ini lupa atas amanah yang diberikan. Para ’wakil rakyat’ sibuk bergulat dengan wacana dan kedudukannya sebagai ’pengawas’. Sementara pemerintah sebagai pemegang kekuasaan yang lain menjadi tak maksimal bekerja. Semua terpancing pada ’perseteruan’ yang absurd secara logika dan komitmen sebagai pemegang amanah dari rakyat. Berhenti di sini kata sukses masih harus digali lebih jauh lagi. Ada ungkapan yang menyatakan kegagalan adalah kesuksesan tertunda. Benarkah demikian? Pertanyaan yang sulit dijawab, jika tidak sungguh-sungguh dan ingin berbuat pada arah perbaikan. Bisakah kesuksesan diraih? Sebuah pertanyaan kembali muncul. Dan lagi-lagi jawabnya adalah kesungguhan serta kerja keras untuk mencapainya. Tak ada yang mustahil untuk nilai- nilai ini. Nah, jika kata sukses ingin digali dan dimaknai lebih jauh, sudah saatnya berhenti terhadap konflik politis. Sesungguhnya semua percaya dan masih terlalu banyak yang bisa dilakukan negeri ini untuk mencapai kesuksesannya. Mulailah berbuat dan terutama atas nama rakyat ciptakan keberhasilan dan kesuksesan itu. Tentu, kita tidak ingin terus menunda kesuksesan. Bukankah kita yang menciptakannya? (subhan)
Berita Foto
Pansus RUU Pilpres
Berita Foto
Tolak Bubarkan FPI
Harga Minyak Dunia
OFF SIDE !!!
PEMIMPIN YANG JUJUR Panacea Masalah Bangsa Oleh : Karim Suryadi Lembaga Riset Informasi, Jakarta
Rentetan masalah yang mendera bangsa makin menyadarkan rakyat Indonesia tentang perlunya kehadiran sosok pemimpin yang negarawan. Sosok pemimpin yang tidak biasa karena dibekali penguasaan pengetahuan teoretis dan praktis tentang bidang yang menjadi kewenangannya. Jauh dari sekedar berwacana, pemimpin yang negarawan mampu mengambil langkah nyata karena ia memiliki keterampilan politik praktis (seperti kamampuan mempersuasi dan keahlian retorika), serta berkarakter kuat. Meski menyadari di mana ia berdiri, pemimpin yang negarawan tidak akan terjebak oleh kekinian dan terjerat kepentingan jangka pendek. Selengkapnya baca di ULASAN
SOEHARTO : MISTERI YANG BELUM TERSENTUH Oleh : Arie Purnomoadji Redaktur Senior The Indonesia Now
Dalam suatu kesempatan penulis bertanya kepada mantan Presiden BJ Habibie, “Apakah Bapak masih berkomunikasi dengan Pak Harto ? “. Pofesor Habibie sejenak terdiam dan mengambil nafas dalam, “ Terakhir saya berkomunikasi melalui telepon ketika Pak Harto ulang tahun pada tanggal 8 Juni 1998 ( ulang tahun ke 77 dan 18 hari setelah lengser –Red. ) selain mengucapkan selamat ulang tahun, saya juga ingin bertemu secara langsung “. Tapi Pak Harto menjawab, “ Sebaiknya kita tidak usah bertemu secara fisik, tidak menguntungkan bagi bangsa ini, kita cukup bertemu secara batin saja “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar