Jakarta - E-Procurement bisa berpotensi terjadi penghematan pada pengadaan barang dan jasa sebesar 20 - 30 persen.
Hal tersebut disampaikan oleh Seketaris Utama LKPP Agus Rahardjo sai Launching e - Procurement, di Depkeu, Jakarta, Jumat (1/8).
Menurut Agus, berdasarkan data world bank, ada kebocoran terhadap pengadaan barang dan jasa sekitar 30 persen.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan di daerah penerapan e-procurement, namun hal tersebut bergantung kepada infrastruktur dan telekomunikasi yang tersedia pada wilayah tersebut.
"Sangat tergantung dari infrastruktur telekomunikasi, jadi sangat tergantung dari itu, kalau di korea bisa berjalan cepat karena 94 persen masyarakat korea punya email. kalau kita masih perlu waktu mudha-mudahan 2- 3 tahun sudah 60 persen lah," bebernya. (Ren)
Hal tersebut disampaikan oleh Seketaris Utama LKPP Agus Rahardjo sai Launching e - Procurement, di Depkeu, Jakarta, Jumat (1/8).
Menurut Agus, berdasarkan data world bank, ada kebocoran terhadap pengadaan barang dan jasa sekitar 30 persen.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan di daerah penerapan e-procurement, namun hal tersebut bergantung kepada infrastruktur dan telekomunikasi yang tersedia pada wilayah tersebut.
"Sangat tergantung dari infrastruktur telekomunikasi, jadi sangat tergantung dari itu, kalau di korea bisa berjalan cepat karena 94 persen masyarakat korea punya email. kalau kita masih perlu waktu mudha-mudahan 2- 3 tahun sudah 60 persen lah," bebernya. (Ren)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar