(Tokyo) - Nelayan ikan tuna di koperasi perikanan terbesar Jepang menghentikan sementara operasi mereka untuk mengurangi pengaruh penangkapan berlebihan pada cadangan ikan yang semakin menipis.
Dalam dua tahun ke depan, sekitar 230 kapal Jepang akan berhenti menangkap tuna selama lebih dua bulan.
Untuk memaksimalkan aksi ini, organisasi nelayan Jepang akan bekerjasama dengan badan sejenis di Cina, Korea Selatan dan Taiwan. Selain itu, mereka juga ingin lebih mengkaji pengaruh lonjakan harga bahan bakar.
Wartawan melaporkan, cadangan tuna dunia turun drastis dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak penduduk dunia yang menyukai makanan khas Jepang, sushi dan sashimi.
Ini memang merupakan usaha yang menguntungkan, tetapi para ilmuwan memperingatkan cadangan ikan ini tidak akan bertahan. Mereka memandang, langkah nelayan Jepang ini memang akan mengurangi penangkapan sebesar lima persen.
Diperkirakan hampir sepertiga kapal penangkap tuna Jepang tidak akan melaut dalam waktu tertentu. Langkah ini akan membuat kapal berada di pelabuhan selama lebih dari dua bulan untuk dua tahun ke depan. Tetapi ini sebenarnya tidak cukup untuk memperbaiki cadangan tuna.
Sementara itu, para aktivis lingkungan memandang pembatasan yang lebih ketat perlu diterapkan. Mereka juga mendesak konsumen diberikan informasi tentang keberlangsungan cadangan tuna. Jika tidak, kata mereka, jenis ikan ini akan punah.
Jepang memiliki armada kapal tuna terbesar dunia dan penduduknya makan lebih banyak ikan dibanding negara lain dunia. (BBC/Lala/Internasional)
Dalam dua tahun ke depan, sekitar 230 kapal Jepang akan berhenti menangkap tuna selama lebih dua bulan.
Untuk memaksimalkan aksi ini, organisasi nelayan Jepang akan bekerjasama dengan badan sejenis di Cina, Korea Selatan dan Taiwan. Selain itu, mereka juga ingin lebih mengkaji pengaruh lonjakan harga bahan bakar.
Wartawan melaporkan, cadangan tuna dunia turun drastis dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak penduduk dunia yang menyukai makanan khas Jepang, sushi dan sashimi.
Ini memang merupakan usaha yang menguntungkan, tetapi para ilmuwan memperingatkan cadangan ikan ini tidak akan bertahan. Mereka memandang, langkah nelayan Jepang ini memang akan mengurangi penangkapan sebesar lima persen.
Diperkirakan hampir sepertiga kapal penangkap tuna Jepang tidak akan melaut dalam waktu tertentu. Langkah ini akan membuat kapal berada di pelabuhan selama lebih dari dua bulan untuk dua tahun ke depan. Tetapi ini sebenarnya tidak cukup untuk memperbaiki cadangan tuna.
Sementara itu, para aktivis lingkungan memandang pembatasan yang lebih ketat perlu diterapkan. Mereka juga mendesak konsumen diberikan informasi tentang keberlangsungan cadangan tuna. Jika tidak, kata mereka, jenis ikan ini akan punah.
Jepang memiliki armada kapal tuna terbesar dunia dan penduduknya makan lebih banyak ikan dibanding negara lain dunia. (BBC/Lala/Internasional)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar