(Jakarta) – Kasus pertikaian antara warga Kampung Pulo dan mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (SETIA) akhir Juli lalu, dinilai Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurahman Wahid merupakan keteledoran pemerintah dalam menyusun kebijakan dan dirasa berat sebelah.
Demikian mantan presiden RI yang kerap dipanggil Gus Dur mengomentari kasus tersebut dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur di radio 68H di Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (2/8).
“Kalau tidak diusut, Kapolri harus ikut bertanggung jawab. Terus saja jalankan aktivitasnya jangan takut,” ujar Gus Dur yang kali ini nampak emoh menanggapi konflik partainya.
Gus Dur menegaskan, tidak ada larangan apapun untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan, termasuk kampus SETIA. Namun, Gus Dur meyakini, kasus ini akan cepat selesai, dan tidak akan memakan waktu lama.
“Kasus ini akan reda, satu bulan lagi juga akan habis,” kata Gus Dur yakin.
Selain itu, Gus Dur mengimbau untuk menjaga ketat masjid yang terletak di daerah Kampung Pulo. Hal ini guna menghindari kesalahpahaman masyarakat mengenai seruan penyerangan terhadap Kampus SETIA dari corong pengeras suara yang ada di masjid tersebut.
Pertikaian yang terjadi pada 25 sampai 27 Juli tersebut, telah membuat mahasiswa SETIA harus dievakuasi, diantaranya mereka menumpang di lapangan Bulutangkis kawasan DPR . (*)
Demikian mantan presiden RI yang kerap dipanggil Gus Dur mengomentari kasus tersebut dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur di radio 68H di Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (2/8).
“Kalau tidak diusut, Kapolri harus ikut bertanggung jawab. Terus saja jalankan aktivitasnya jangan takut,” ujar Gus Dur yang kali ini nampak emoh menanggapi konflik partainya.
Gus Dur menegaskan, tidak ada larangan apapun untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan, termasuk kampus SETIA. Namun, Gus Dur meyakini, kasus ini akan cepat selesai, dan tidak akan memakan waktu lama.
“Kasus ini akan reda, satu bulan lagi juga akan habis,” kata Gus Dur yakin.
Selain itu, Gus Dur mengimbau untuk menjaga ketat masjid yang terletak di daerah Kampung Pulo. Hal ini guna menghindari kesalahpahaman masyarakat mengenai seruan penyerangan terhadap Kampus SETIA dari corong pengeras suara yang ada di masjid tersebut.
Pertikaian yang terjadi pada 25 sampai 27 Juli tersebut, telah membuat mahasiswa SETIA harus dievakuasi, diantaranya mereka menumpang di lapangan Bulutangkis kawasan DPR . (*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar