| UTAMA | | ENGLISH | | BERITA FOTO | | ULASAN | | DIALOG | | REDAKSI | | RISET - POLLING |

05 Agustus 2008

Obama Desak Buka Cadangan Minyak

(Washington) – Kandidat presiden dari Partai Demokrat Barack Obama menguraikan rencananya untuk mengendalikan pertumbuhan harga minyak dan dampak yang ditimbulkannya pada perekonomian Amerika.

Persoalan miyak diperkirakan akan memainkan peran kritis dalam pemilihan presiden bulan November mendatang.

Terkait pembalikan kebijakan, Obama mengutarakan AS harus melepas 70 juta barel minyak dari tempat cadangan strategisnya guna mengurangi harga minyak dalam jangka pendek.

Selain itu, Obama juga mengusulkan untuk melepaskan lebih banyak cadangan minyak nasional di Alaska.

Obama menegaskan kembali pernyataan yang disampaikannya pada akhir pekan lalu bahwa dia sanggup mendukung pengeboran minyak lepas pantai AS yang terbatas, jika hal itu dibutuhkan untuk membentuk kebijakan energi yang disepakati.

Senada dengan Obama, saingannya dari Partai Republik, John McCain, menyatakan dukungannya untuk pengeboran lepas pantai yang baru, sebagai bagian dari rencana energi, termasuk energi nuklir dan pembebasan pajak pada produksi gas.

Menurut Obama, para politikus AS gagal selama tiga dekade dalam menangani krisis energi, dan McCain disebut sebagai bagian dari kegagalan tersebut. Dalam iklan televisi terbaru, dia menuduh McCain berada dibawah ayunan perusahaan minyak raksasa.

Iklan tersebut menunjukkan McCain bersama dengan Presiden AS George W Bush, saat narator mengatakan: “Setelah satu presiden dalam kantong perusahaan minyak raksasa, kami tidak sanggup mengahadapi satu lagi.”

Juru bicara untuk Senator Republik McCain menyatakan iklan tersebut menyesatkan. “Minyak raksasa mendanai kampanye McCain dengan sumbangan US$ 2 juta.” demikian narator iklan.

Iklan tersebut juga mempromosikan rencana Obama untuk menggunakan pajak keuntungan tak terduga pada perusahaan minyak besar guna memberikan pengembalian pajak pada keluarga di Amerika sebesar US$ 1000, bersamaan ketika banyak pihak berjuang dengan kenaikan harga minyak. (BBC/Lala/Internasional)

Tidak ada komentar: