(Jakarta) - Pemerintah masih akan sanggup memenuhi kebutuhan beras rakyat Indonesia hingga 10-20 tahun kedepan. Namun setelah itu, harus dilakukan intensifikasi pertanian dan pengembangan teknologi pertanian untuk memenuhi kebutuhan beras Indonesia dalam jangka panjang.
Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono untuk memenuhi kebutuhan beras secara jangka pendekpun semua potensi pertanian yang ada di Indonesia harus dimaksimalkan. “Dalam kerangka yang tidak panjang, sekitar 10-20 tahun kita masih meampu memenuhi kebutuhan beras. Namun itupun harus memaksimalkan potensi 7,4 hektar lahan pertanian yang sekarang ada.” kata Anton dalam Seminar Nasional Rekontruksi Kebutuhan Perdagangan Pangan, di Saripan Pasific, Jakarta, Selasa (5/8).
Sampai saat ini, lanjut Anton, potensi lahan pertanian Indonesia ada 7,4 hektar dan itu belum dimaksimalkan hasilnya. “Kalau indeks penanaman yang saat ini 1,6 menjadi 2 maka akan ada tambahan 8,6 juta ton beras. Kemudian kalau produktifitas gabah kering giling yang sekarang 4,7 ton per hektar bisa naik menjadi 6 ton per hektar maka akan ada tambahan beras lagi sebanyak 9 juta ton,” ujarnya.
Menteri menegaskan potensi itu hanya bisa dimaksimalkan untuk jangka pendek, sedangkan untuk keberlanjutan jangka panjang maka harus dilakukan intensifikasi maupun ekstensifikasi lahan karena di masa depan penduduk Indonesia akan meningkat drastis.
“Pertumbuhan penduduk Indonesia ke depan sebesar 1,3 persen per tahun. Berdasarkan hasil kajian lembaga demografi UI penduduk Indonesia pada tahun 2030 mencapai 300 jutaan orang. Maka mau tidak mau intensifikasi pertanian, penggunaan bibit unggul, aplikasi teknologi harus dilakukan. Tidak bisa tidak. Selain itu, juga harus ada revolusi untuk meningkatkan produktifitas pertanian,” jelas Anton. (Adi/Nurseffi)
Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono untuk memenuhi kebutuhan beras secara jangka pendekpun semua potensi pertanian yang ada di Indonesia harus dimaksimalkan. “Dalam kerangka yang tidak panjang, sekitar 10-20 tahun kita masih meampu memenuhi kebutuhan beras. Namun itupun harus memaksimalkan potensi 7,4 hektar lahan pertanian yang sekarang ada.” kata Anton dalam Seminar Nasional Rekontruksi Kebutuhan Perdagangan Pangan, di Saripan Pasific, Jakarta, Selasa (5/8).
Sampai saat ini, lanjut Anton, potensi lahan pertanian Indonesia ada 7,4 hektar dan itu belum dimaksimalkan hasilnya. “Kalau indeks penanaman yang saat ini 1,6 menjadi 2 maka akan ada tambahan 8,6 juta ton beras. Kemudian kalau produktifitas gabah kering giling yang sekarang 4,7 ton per hektar bisa naik menjadi 6 ton per hektar maka akan ada tambahan beras lagi sebanyak 9 juta ton,” ujarnya.
Menteri menegaskan potensi itu hanya bisa dimaksimalkan untuk jangka pendek, sedangkan untuk keberlanjutan jangka panjang maka harus dilakukan intensifikasi maupun ekstensifikasi lahan karena di masa depan penduduk Indonesia akan meningkat drastis.
“Pertumbuhan penduduk Indonesia ke depan sebesar 1,3 persen per tahun. Berdasarkan hasil kajian lembaga demografi UI penduduk Indonesia pada tahun 2030 mencapai 300 jutaan orang. Maka mau tidak mau intensifikasi pertanian, penggunaan bibit unggul, aplikasi teknologi harus dilakukan. Tidak bisa tidak. Selain itu, juga harus ada revolusi untuk meningkatkan produktifitas pertanian,” jelas Anton. (Adi/Nurseffi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar