(Singapura) - Harga minyak diperdagangkan pada level diatas US$ 132 per barel, Senin, pada saat berlangsungnya musim liburan di AS. Hal ini menegaskan kekhawatiran ketidakcukupan produksi di tengah permintaan bahan bakar yang meningkat.“Pasar minyak yang ketat membuat harga peka terhadap faktor-faktor pertemuan, termasuk nilai dollar AS yang melemah, dana spekulatif, keengganan produsen minyak meningkatkan produksi dan ketegangan geopolitik.” kata para pengamat.
Pada perdagangan Asia, kontrak berjangka utama New York minyak mentah jenis “light sweet” untuk pengiriman Juli naik 37 sen menjadi US$132.56 per barel setelah penutupan US$ 132.19 per barel di New York hari Jumat.
Kontrak utama London minyak mentah jenis “Brent North Sea” untuk pengiriman bulan Juli diperdagangkan pada US$ 131.90 per barel, naik 33 sen.
Pada hari Kamis, Brent menyentuh kenaikan tertinggi sebesar US$ 135.14 dan minyak mentah New York mencapai rekor US$ 135.09 sebelum kedua kontrak loncat dan investor menimbun keuntungan.
Kontrak minyak mentah telah naik lebih dari tiga kali sejak awal 2008 ketika menyentuh US$ 100 untukpertama kalinya, dipicu oleh kegelisahan di beberapa negara produsen minyak, kemerosotan cadangan energi, permintaan bahan bakar Asia yang tinggi dan lemahnya nilai Dollar.
Keseganan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksi juga turut andil dalam kenaikan harga. OPEC beralasan persediaan pasar sudah tercukupi dan rekor harga merefleksikan aktifitas investasi spekulatif daripada kondisi aktual persediaan dan permintaan. (AFP/Lala/Internasional)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar